Mahasiswa PhD UBC Benjamin Mulchinock meneliti riset kolaboratif Indigenous dan asal-usul peopling of the Americas

Diterbitkan: 3 mnt baca

Date:

Benjamin Mulchinock, mahasiswa doktoral filsafat di University of British Columbia, meneliti bagaimana ilmuwan dan pemegang pengetahuan Indigenous berkolaborasi dalam studi tentang migrasi pertama ke Amerika. Fokus utamanya adalah kapan dan dalam kondisi apa kolaborasi antara paleosaintis non-Indigenous dan pengetahuan Indigenous layak secara etis dan epistemik.

Fakta utama

  • Mulchinock terdaftar di program Doctor of Philosophy in Philosophy (PhD) di Faculty of Arts UBC.
  • Topik risetnya berjudul “Scientific pluralism in action: Indigenous collaborative research and the first migration into the Americas.”
  • Pembimbingnya adalah Alison Wylie.
  • Ia menerima Canada Graduate Scholarships Doctoral (CGS D) Program dan Tri-Agency Indigenous Scholars Awards and Supplements Pilot Initiative.
  • Ia berasal dari Victoria, Kanada.

Apa arti penelitian ini bagi mahasiswa pascasarjana dan peneliti?

Proyek Mulchinock menunjukkan bagaimana riset doktoral dapat berada di persimpangan filsafat, sains, dan pengetahuan Indigenous. Bagi mahasiswa pascasarjana dan peneliti di bidang terkait, persoalan praktisnya bukan hanya apakah berbagai bentuk bukti dapat dibandingkan, tetapi juga bagaimana sistem etika, ontologi, dan epistemologi membentuk perbandingan itu.

Studi kasusnya berpusat pada peninjauan ulang teori Clovis-first tentang peopling of the Americas, dengan memakai bukti dari paleogenomik, geokronologi, paleoekologi, arkeologi, dan sejarah lisan Indigenous. Proyek ini menekankan pentingnya riset kolaboratif yang cermat ketika tradisi pengetahuan yang berbeda terlibat.

Mengapa dia memilih UBC?

Mulchinock mengatakan UBC menarik baginya karena mendukung mahasiswa pascasarjana, menawarkan paket pendanaan yang kompetitif, dan memberi kesempatan untuk mempresentasikan karya secara internasional. Ia juga menyoroti lingkungan interdisipliner di departemen itu, kekuatan fakultas filsafatnya, dan kesempatan untuk tetap dekat dengan rumah di British Columbia.

Ia mengatakan departemen filsafat di sana lebih padu dan saling mendukung daripada yang ia perkirakan, dengan banyak kesempatan untuk berbagi ide, menghadiri kuliah, dan ikut lokakarya.

Bagaimana risetnya dibingkai?

Risetnya mempertanyakan bagaimana para produsen pengetahuan dari tradisi epistemik yang berbeda dapat bersama-sama menciptakan pengetahuan baru. Lebih spesifik, ia menelaah dalam kondisi apa kolaborasi antara paleosaintis non-Indigenous dan pemegang pengetahuan Indigenous dapat dibenarkan secara etis dan epistemik.

Bukan sekadar memperlakukan sejarah lisan Indigenous sebagai satu data tambahan, proyek ini melihat perbedaan nilai, pandangan dunia, dan metode yang lebih mendalam yang membentuk perbandingan bukti.

Apa yang mempersiapkannya untuk sekolah pascasarjana?

Mulchinock mengatakan pengalaman bekerja sebagai resident assistant selama kuliah membantu mempersiapkannya menghadapi sisi komunal dan interpersonal dari sekolah pascasarjana. Ia mengatakan pengalaman itu melibatkan kerja sama dengan mahasiswa lain untuk menyelesaikan masalah bagi mahasiswa tahun pertama, dan itu cocok dengan tuntutan kolaboratif studi doktoral.

Ia juga mengatakan sekolah pascasarjana memberinya ruang untuk mengembangkan keterampilan menulis, mengorganisasi, dan berbicara sambil mengerjakan pertanyaan yang menjembatani sains dan filsafat.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa yang dipelajari Benjamin Mulchinock di UBC?

Ia adalah mahasiswa PhD filsafat yang meneliti scientific pluralism, riset kolaboratif Indigenous, dan migrasi pertama ke Amerika. Proyeknya mengkaji bagaimana ilmuwan dan pemegang pengetahuan Indigenous dapat bekerja sama lintas tradisi epistemik yang berbeda.

Siapa yang membimbing riset doktornya?

Pembimbing risetnya adalah Alison Wylie, filsuf UBC yang karyanya juga mencakup filsafat sains dan pengetahuan Indigenous.

Share post:

Subscribe

Popular

More like this
Related

Career Puzzles: Collaborators, Not Competitors di NYU Tisch mengajak mahasiswa melihat sesama kreator sebagai rekan

NYU Tisch School of the Arts menggelar sesi coaching kelompok untuk mahasiswa dan alumni yang berfokus pada cara mengubah rekan kreatif menjadi kolaborator, referensi, dan calon kolega.

Jembatan Tokyo ke Toronto: Munk School meluncurkan program gelar ganda Asia pertama

Munk School of Global Affairs & Public Policy di University of Toronto meluncurkan program gelar ganda pertamanya di Asia bersama University of Tokyo. Mulai 2027, mahasiswa dapat meraih dua gelar Master of Public Policy dalam dua tahun, dengan dukungan penuh biaya kuliah dan perjalanan untuk angkatan pertama di Tokyo.

Program Studi Trauma dan Ketangguhan Pribumi FIFSW Rayakan 10 Tahun dengan Reuni di Port Alberni

Faculty of Social Work Factor-Inwentash University of Toronto menandai 10 tahun program Master of Social Work – Indigenous Trauma and Resiliency lewat reuni di Port Alberni, British Columbia, yang mempertemukan 75 lulusan dari Kanada dan Amerika Serikat.

Analisis dampak levi mahasiswa internasional diperbarui untuk sektor pendidikan tinggi Inggris

Kementerian Pendidikan merilis analisis dampak terbaru atas levi mahasiswa internasional untuk pendidikan tinggi di Inggris, menggantikan estimasi sebelumnya dan menjelaskan metodologi, asumsi, serta dampak langsung dan lebih luas yang dinilai.